See More

22 Mei 2026, 13:47

22 Mei 2026, 13:33

22 Mei 2026, 13:23

22 Mei 2026, 13:07

22 Mei 2026, 13:03

22 Mei 2026, 12:59
donald trump|Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping|xi jinping|perang dagang|konflik geopolitik
Oleh: Harry

Foto: The Indian Express
Pasardana.id - Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan lalu menjadi sorotan utama media global.
Pertemuan yang berlangsung di tengah tensi perang dagang, isu Taiwan, rantai pasok rare earth, hingga konflik Timur Tengah itu memunculkan berbagai interpretasi dari media internasional maupun analis geopolitik.
Meski kedua negara mengklaim pembicaraan berlangsung produktif, banyak media menilai hasil konkret pertemuan tersebut masih jauh dari ekspektasi.
Sebaliknya, yang paling menonjol justru adalah pertarungan citra dan strategi diplomatik antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Perspektif Media Amerika: Trump Dinilai Belum Mendapat Terobosan Besar
Dari pantauan Pasardana.id, media-media Amerika cenderung melihat pertemuan ini sebagai ujian politik bagi Trump.
Harian Los Angeles Times bahkan mempertanyakan apakah Trump “berhasil dikalahkan secara diplomatik” oleh Xi Jinping setelah dua hari penuh agenda di Beijing.
Sementara itu, The Washington Post menilai Xi tampil jauh lebih dominan dalam pertemuan tersebut.
Menurut laporan mereka, Xi berhasil memproyeksikan citra stabilitas dan kepemimpinan global tanpa harus memberikan konsesi besar kepada Washington.
China dinilai sukses menjaga “garis merah” terkait Taiwan dan tetap mengendalikan arah pembicaraan.
Dari sisi Gedung Putih, pemerintahan Trump menonjolkan sejumlah capaian ekonomi, termasuk rencana pembelian ratusan pesawat Boeing oleh China, peningkatan impor produk pertanian AS, hingga pembentukan “board of trade” dan “board of investment” untuk memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Namun sejumlah analis Amerika menilai capaian tersebut lebih bersifat simbolis ketimbang strategis karena tidak menyentuh akar konflik utama seperti tarif, teknologi, dan keamanan regional.
Perspektif Media China: Xi Menang Secara Diplomatik
Di sisi lain, media dan pengamat yang dekat dengan perspektif Beijing melihat pertemuan ini sebagai kemenangan diplomatik Xi Jinping.
China dinilai berhasil menempatkan diri sebagai pusat stabilitas global di tengah meningkatnya konflik internasional.
The Guardian menyoroti bagaimana Xi hanya berselang beberapa hari akan menerima kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah sebelumnya menjamu Trump.
Situasi itu dipandang sebagai simbol bahwa Beijing kini berada di pusat percaturan geopolitik global.
Beijing juga memanfaatkan momentum ini untuk menegaskan posisi mereka terkait Taiwan.
China disebut memberi peringatan keras kepada Washington agar tidak melewati batas dalam isu tersebut.
Dalam narasi media China, Trump tampak lebih berhati-hati dibanding periode pertamanya ketika hubungan AS-China berada di titik paling panas.
Perspektif Timur Tengah dan Eropa: Stabilitas Semu
Media internasional lain menilai pertemuan Trump-Xi lebih menyerupai “stalemate summit” atau pertemuan tanpa terobosan nyata.
The Guardian menyebut kedua pemimpin memang berhasil menurunkan tensi sementara, tetapi gagal menyelesaikan persoalan mendasar antara Washington dan Beijing.
Sementara itu, The Jerusalem Post menilai fokus utama Trump sebenarnya adalah mengamankan kepentingan strategis AS, terutama terkait pasokan rare earth, perdagangan, dan isu Iran.
Media tersebut menilai kedua pihak hanya mencari kemenangan jangka pendek tanpa benar-benar menyelesaikan konflik struktural.
Media Al Jazeera bahkan menyoroti adanya perbedaan klaim antara Washington dan Beijing mengenai isi kesepakatan yang dicapai.
AS menonjolkan aspek perdagangan, sedangkan China lebih menekankan isu Taiwan dan kritik terhadap konflik Timur Tengah.
Perspektif Akademisi dan Pengamat Asia: Diplomasi Simbolik
Sementara itu, pengamat hubungan internasional di Asia menilai pertemuan ini lebih banyak memainkan simbol diplomasi ketimbang menghasilkan kebijakan konkret.
Pusat studi Stimson Center, lembaga pemikir (think tank) nirlaba dan nonpartisan yang berbasis di Washington, D.C., Amerika Serikat, menyebut pertemuan Trump-Xi akan berdampak besar terhadap stabilitas global, terutama pada isu perdagangan, teknologi, keamanan Indo-Pasifik, dan persaingan geopolitik jangka panjang.
Di Indonesia, akademisi Universitas Indonesia, Asra Virgianita menilai pertemuan tersebut terutama penting bagi Xi untuk menunjukkan bahwa China tetap diakui sebagai kekuatan besar dunia oleh Amerika Serikat.
Sementara pengamat lain menilai Trump berupaya mencari kemenangan ekonomi cepat demi memperkuat citra domestiknya menjelang tekanan politik di dalam negeri AS.
Dampak terhadap Pasar Global
Meski tidak menghasilkan kesepakatan besar, pasar global menyambut positif meredanya tensi sementara antara AS dan China.
Investor melihat adanya peluang stabilitas jangka pendek dalam rantai pasok global, terutama sektor teknologi, manufaktur, dan komoditas strategis seperti rare earth.
Namun, analis menilai risiko geopolitik masih tinggi.
Isu Taiwan, perang teknologi AI, hingga persaingan pengaruh di Asia Pasifik tetap menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa memicu eskalasi baru.
Dari beragam kondisi tersebut diatas, pertemuan Trump dan Xi Jinping memperlihatkan bahwa hubungan AS-China kini memasuki fase baru: bukan lagi sekadar perang dagang, tetapi kompetisi pengaruh global yang lebih kompleks.
Bagi Trump, pertemuan ini penting untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu menjaga hubungan dengan rival terbesar Amerika.
Sedangkan bagi Xi, momentum ini menjadi panggung untuk memperkuat citra China sebagai kekuatan global yang stabil dan sulit ditekan.
Meski kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan, banyak media internasional sepakat bahwa pertemuan ini belum menyelesaikan konflik mendasar antara Washington dan Beijing.
Yang tercipta sejauh ini lebih merupakan jeda strategis daripada perdamaian permanen.