IHSG Tersalip! Singapura Resmi Rebut Tahta Bursa Terbesar ASEAN
Oleh: Harry

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Posisi Indonesia sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara kini kembali digeser oleh Singapura.
Setelah sempat unggul sejak 2023, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan tajam sepanjang 2026, sementara pasar saham Singapura justru menikmati arus dana masuk dan reli saham sektor perbankan.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip media regional, kapitalisasi pasar saham Singapura kini mencapai sekitar US$645 miliar, melampaui Indonesia yang berada di kisaran US$618 miliar.
Kondisi ini menandai perubahan besar dalam peta pasar modal ASEAN.
Sebelumnya, Indonesia sempat menjadi pasar saham terbesar Asia Tenggara setelah kapitalisasi pasar BEI menembus Rp15.000 triliun pada 2025 dan melampaui Singapore Exchange (SGX).
Dari pengamatan Pasardana.id, ada beberapa faktor utama yang membuat pasar saham Singapura kembali menarik di mata investor global.
1.Stabilitas Ekonomi dan Politik
Singapura dinilai memiliki stabilitas ekonomi dan kebijakan yang lebih konsisten.
Di tengah gejolak global, investor cenderung mencari pasar yang aman dan likuid.
Menurut laporan Bloomberg yang dikutip The Edge Malaysia, investor mulai mengurangi eksposur ke Indonesia akibat kekhawatiran terkait arah kebijakan ekonomi, potensi penurunan status pasar oleh MSCI, serta penurunan outlook dari lembaga pemeringkat global.
Sebaliknya, Singapura justru dianggap sebagai safe haven di Asia Tenggara.
2.Reformasi Besar SGX
Pemerintah Singapura bersama Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Singapore Exchange (SGX) aktif melakukan reformasi pasar modal untuk meningkatkan likuiditas dan menarik IPO baru.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain: Pemberian insentif pajak untuk emiten; Penyederhanaan dual listing dengan Nasdaq; Penguatan market maker; hingga pembentukan dana investasi untuk mendukung pasar saham domestik.
Langkah ini mulai membuahkan hasil.
SGX mencatat laba semester tertinggi sepanjang sejarah pada 2026, didorong lonjakan aktivitas perdagangan dan peningkatan IPO.
3.Reli Saham Perbankan Singapura
Kenaikan saham bank-bank besar seperti DBS Group, OCBC, dan United Overseas Bank menjadi motor utama kenaikan kapitalisasi pasar SGX.
Data GoMarketCap menunjukkan, DBS memiliki kapitalisasi pasar lebih dari US$126 miliar, terbesar di SGX. Selain sektor perbankan, Singapura juga kuat di sektor REITs, properti, dan derivatif.
Indonesia Masih Unggul dalam Jumlah Emiten
Di sisi lain, meski kalah dari sisi kapitalisasi pasar terbaru, Indonesia masih memiliki jumlah emiten terbanyak di Asia Tenggara.
Menurut data regional pasar modal ASEAN: BEI memiliki lebih dari 900 perusahaan tercatat, sedangkan SGX sekitar 600 emiten.
Artinya, pasar modal Indonesia tetap memiliki basis domestik yang besar dan potensi pertumbuhan jangka panjang yang kuat.
Namun, tekanan terhadap IHSG dan keluarnya dana asing dalam beberapa bulan terakhir membuat valuasi pasar Indonesia terkoreksi cukup dalam.
Ironi SGX: Besar Kapitalisasi, Tapi IPO Masih Seret
Menariknya, meski kini menjadi bursa terbesar di ASEAN, SGX masih menghadapi tantangan besar dalam menarik perusahaan teknologi dan startup untuk IPO domestik.
Laporan Financial Times menyebut banyak perusahaan Asia tetap memilih listing di Amerika Serikat atau Hong Kong karena likuiditas yang lebih tinggi.
Bahkan, diskusi di komunitas investor Singapura di Reddit menunjukkan banyak pelaku pasar lokal masih menganggap SGX kurang atraktif dibanding bursa global lain.
Namun demikian, reformasi agresif pemerintah Singapura mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya pipeline IPO dan aktivitas perdagangan saham sepanjang 2025–2026, sebut laporan Reuters.




