See More

22 Mei 2026, 02:26

22 Mei 2026, 02:03

22 Mei 2026, 01:41

21 Mei 2026, 19:44

21 Mei 2026, 19:29

21 Mei 2026, 17:55
Pefindo|Annual Indonesia Credit Spotlight|BPI Danantara
Oleh: Harry

Foto : istimewa
Pasardana.id – PEFINDO bersama S&P Global Ratings kembali menggelar seminar tahunan Annual Indonesia Credit Spotlight di Jakarta dengan tema “Menghadapi Tantangan Geopolitik dan Ketahanan Domestik”.
Acara ini menghadirkan Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung dan Managing Director Finance BPI Danantara Arief Budiman, serta para ekonom dan analis dari S&P Global Ratings dan PEFINDO.
Dalam seminar tersebut, S&P Global Ratings menyoroti dampak konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan menekan pertumbuhan ekonomi global.
Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings, Louis Kuijs, menyebut kondisi ini berpotensi mengurangi daya beli, meningkatkan biaya ekonomi, dan membuat bank sentral global mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Kami sekarang memperkirakan Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada tahun 2026,” ungkap Louis, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5).
Meski demikian, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap solid, didukung kebijakan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan dan menahan dampak kenaikan harga minyak.
Namun, risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi mitra dagang utama dan pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian.
"Kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan tetap solid pada tahun 2026 di tengah langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar domestik serta perubahan kebijakan tarif AS baru- baru ini. Permintaan yang lebih rendah dari mitra dagang besar seperti Tiongkok, AS, dan India merupakan risiko utama,” ungkap Louis.
Selanjutnya, S&P Global juga menilai Bank Indonesia berpotensi memperketat kebijakan moneter untuk merespons tekanan inflasi dan depresiasi rupiah.
“Kami berpendapat bahwa bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” ujar Louis.
Dari sisi BUMN, S&P Global Ratings menilai transformasi dan konsolidasi di bawah Danantara dapat memperkuat ketahanan sektor BUMN melalui dukungan modal, efisiensi, dan fokus pada profitabilitas jangka panjang.
Langkah ini dinilai mampu menjaga kualitas kredit BUMN di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, sektor perbankan Indonesia dinilai masih cukup kuat berkat profitabilitas tinggi dan rasio modal yang solid.
Namun, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan UMKM disebut paling rentan terdampak jika kondisi ekonomi memburuk akibat tekanan global dan kenaikan harga energi berkepanjangan.
Sementara itu, PEFINDO juga menyoroti bahwa perusahaan non-keuangan Indonesia menghadapi tantangan berupa pelemahan rupiah, tekanan margin, dan kebutuhan refinancing yang besar pada 2026.
Meski demikian, sektor komoditas seperti CPO, minyak dan gas, serta emas diperkirakan masih mendapat keuntungan dari tingginya harga komoditas global dan penguatan pendapatan berbasis dolar AS.
Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-2 PEFINDO, Yogie Perdana menyampaikan, bahwa di tengah depresiasi rupiah dan risiko limpahan dari konflik Timur Tengah, perusahaan non-keuangan Indonesia menghadapi konvergensi tekanan kredit pada tahun 2026, termasuk pelebaran spread kredit, tantangan refinancing sebesar Rp121 triliun, dan kompresi margin.
“Namun demikian, dukungan Danantara untuk BUMN, khususnya melalui percepatan penyaluran modal, dapat memberikan penyangga parsial namun signifikan bagi emiten terpilih,” jelas Yogie.
Dalam sesi tersebut pula, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 PEFINDO, Martin Pandiangan mengatakan, “Kami memproyeksikan sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), hulu minyak dan gas, serta pertambangan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik yang sedang berlangsung dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS.”
Martin menambahkan, “Sebaliknya, sektor hilir seperti logam dan petrokimia diperkirakan akan menghadapi tantangan struktural terkait ketersediaan bahan baku, biaya energi yang lebih tinggi, dan volatilitas permintaan industri. Sementara itu, sektor lain – termasuk pertambangan batubara dan nikel, telekomunikasi, dan barang konsumsi pokok – diperkirakan akan mengalami dampak yang sebagian besar netral.”
Lebih lanjut Martin berpendapat, bahwa peningkatan fokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional di antara BUMN seharusnya mendukung posisi strategis yang lebih kuat melalui peningkatan ketahanan bisnis, peningkatan perolehan nilai, dan peningkatan stabilitas keuangan dan nilai tukar.
“Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait dengan peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks,” pungkas Martin.
Seminar ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan dengan kolaborasi antara S&P Global Ratings dan PEFINDO.
Sejak tahun 2023, S&P Global Ratings resmi menjadi pemegang saham PEFINDO yang mengantarkan PEFINDO menjadi bagian dari lembaga pemeringkatan global.