Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|Mirae Asset Sekuritas|PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia|foreign net sell|kapitalisasi pasar|saham big caps|kurs rupiah|indeks MSCI

IHSG Rontok Rp1.190 Triliun dalam Sepekan! Mirae Asset Bongkar Ancaman Besar yang Bikin Investor Asing Kabur

Oleh: Harry

26 Mei 2026, 15:47
IHSG Rontok Rp1.190 Triliun dalam Sepekan! Mirae Asset Bongkar Ancaman Besar yang Bikin Investor Asing Kabur

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase yang rentan di tengah meningkatnya tekanan eksternal, pelemahan Rupiah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

IHSG anjlok 8,35% sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026 dan parkir di level 6.162,04.

Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi dan tekanan jual investor asing, sementara kapitalisasi pasar tergerus 10,07% menjadi Rp10.635 triliun terpangkas sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam sepekan.

Tekanan utama bersumber dari rebalancing MSCI efektif 1 Juni 2026, yang menghapus enam saham Indonesia dari Global Standard Index dengan estimasi potensi outflow hingga USD1,7 miliar belum termasuk risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market jika masalah struktural tidak segera dibenahi.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), IHSG ditutup menguat 0,72% ke level 6.206,35, ditopang kenaikan sejumlah saham big caps termasuk AMMN, BBRI, dan BBCA.

Namun penguatan tersebut masih dibayangi _foreign net sell_sekitar Rp2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI.

Di saat yang sama, Rupiah kembali melemah ke level Rp17.744 per dolar AS.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai rebound IHSG saat ini masih bersifat teknikal dan belum didukung perbaikan fundamental arus modal asing.

"Selama volatilitas Rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh," kata Rully, seperti dilansira dalam siaran pers, Selasa (26/5).

Lebih lanjut Rully juga menyoroti pergeseran fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran perlambatan pertumbuhan tercermin dari dinamika yield obligasi domestik pasca kenaikan BI Rate 50 basis poin.

Pendataran kurva imbal hasil (flattening yield curve) dinilai Rully sebagai sinyal risiko perlambatan pertumbuhan ke depan, sekaligus mencerminkan dampak pengetatan moneter front-loaded Bank Indonesia.

Kenaikan yield tenor pendek pasca kenaikan BI Rate mengindikasikan likuiditas domestik yang semakin ketat, sementara yield tenor panjang yang relatif tertahan menunjukkan pasar mulai mempertimbangkan pelemahan pertumbuhan dalam jangka menengah.

"Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi," tambahnya.

Dari sisi eksternal, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyoroti pelebaran defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tercatat USD9,1 miliar pada kuartal I 2026, sementara defisit transaksi berjalan melebar menjadi 1,1% terhadap PDB yang terdalam sejak kuartal III 2020.

Menurut Jessica, tekanan terhadap Rupiah tidak semata berasal dari faktor global, tetapi juga dari external imbalance domestik yang semakin lebar, diperberat oleh melemahnya permintaan ekspor dari mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebagai respons, pemerintah dan Bank Indonesia tengah menyiapkan implementasi aturan DHE SDA mulai 1 Juni 2026 yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri selama 12 bulan, dengan 50% dari hasil ekspor diwajibkan untuk dikonversikan ke Rupiah melalui bank domestik dalam upaya meningkatkan permintaan terhadap Rupiah.

"Efektivitas implementasinya akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa bulan ke depan," tutup Jessica.

Mirae Asset sendiri memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga di level 5,25% hingga akhir 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik yield domestik.

Berita Terkini

See More