See More

05 Juni 2026, 01:05

05 Juni 2026, 00:48

05 Juni 2026, 00:33

04 Juni 2026, 21:23

04 Juni 2026, 20:33
04 Juni 2026, 20:12
depresiasi Rupiah|gejolak nilai tukar rupiah|Bank Indonesia|Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti|cadangan devisa|Cadev
Oleh: Issa

foto: istimewa
Pasardana.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti angkat suara terkait stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut Destry, pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry, Kamis (4/6/2026).
Destry menegaskan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
Di sisi lain, kata Destry, intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ujarnya.
Selain itu Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan pada April mencapai sekitar US$22,7 miliar vs full year tahun lalu yang sekitar US$25,7 miliar.
Secara umum, Destry pun menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 milyar pada akhir April 2026.