ANALIS MARKET (18/5/2026): IHSG Berpotensi Tetap Volatil
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Jumat di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko dan tekanan pada sektor Bahan Baku, Utilitas, dan Industri.
Dow Jones turun -1,07% menjadi 49.526,17, S&P 500 melemah -1,24% menjadi 7.408,50, sementara Nasdaq terkoreksi paling dalam sebesar -1,54% menjadi 26.225,14.
Penurunan dipimpin oleh saham teknologi dan siklikal, dengan NVIDIA turun -4,42%, Micron -6,69%, Boeing -3,80%, dan Ford anjlok -7,32%.
Meskipun demikian, beberapa saham teknologi besar berhasil tetap positif, seperti Microsoft yang naik +3,05% dan Salesforce +3,56%.
Luasnya pasar juga menunjukkan tekanan penjualan yang luas, dengan saham yang turun jauh lebih banyak daripada saham yang naik di NYSE dan Nasdaq.
Volatilitas pasar kembali meningkat, dengan indeks VIX naik +6,72% ke level 18,42.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global kembali dibayangi oleh kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan volatilitas tinggi, terutama setelah pelemahan luas pada saham teknologi dan siklikal. Tekanan pada saham semikonduktor memicu aksi risk-off lain di pasar, sementara investor mulai mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga agresif dari The Fed.
-Di sisi lain, reli harga minyak akibat ketegangan geopolitik tetap menjadi fokus utama bagi investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang untuk pelonggaran moneter. Kenaikan VIX menunjukkan bahwa investor mulai meningkatkan posisi defensif sambil menunggu arah kebijakan suku bunga dan perkembangan geopolitik selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil obligasi pemerintah AS masih bergerak tinggi sejalan dengan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dari Federal Reserve. Penguatan Dolar AS juga terjadi lagi, dengan Indeks Dolar AS naik +0,50% ke level 99,22.
-Di pasar mata uang, USD/JPY naik ke 158,79 sementara EUR/USD relatif stabil di area 1,16. Penguatan dolar terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah volatilitas di pasar saham global.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa sebagian besar ditutup jauh lebih rendah pada hari Jumat di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi, melonjaknya harga minyak, dan ketidakpastian geopolitik global. Indeks FTSE 100 Inggris anjlok -2,0%, DAX Jerman turun -2,1%, dan CAC 40 Prancis melemah -1,6%, dipimpin oleh tekanan pada sektor pertambangan, perbankan, teknologi, dan industri. Sentimen pasar terbebani oleh kurangnya kemajuan dalam negosiasi AS-Iran, hasil pertemuan Trump-Xi yang belum memberikan kepastian baru, dan meningkatnya risiko stagflasi karena lonjakan harga energi global.
-Pasar Asia sebagian besar melemah pada hari Jumat di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko karena ketegangan di Timur Tengah, melonjaknya harga minyak, dan kurangnya hasil konkret dari pertemuan Trump-Xi. Nikkei 225 Jepang turun -1,99%, Shanghai Composite melemah -1,02%, dan KOSPI Korea Selatan anjlok -6,12% karena aksi ambil untung pada saham AI dan semikonduktor serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global. Investor asing juga mencatat penjualan bersih yang besar di pasar Korea Selatan, sementara saham teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi beban utama bagi indeks regional.
KOMODITAS: Harga minyak melonjak tajam di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan global, dengan WTI naik +4,54% menjadi USD 105,76/barel dan Brent menguat +3,48% menjadi USD 109,40/barel. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan menjadi sentimen negatif bagi pasar ekuitas global. -Sementara itu, harga emas justru terkoreksi -2,95% menjadi USD 4.547/troy ounce sejalan dengan penguatan Dolar AS dan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.
UPDATE IRAN: China menolak resolusi PBB yang didukung oleh AS dan Bahrain mengenai Selat Hormuza karena dianggap berpotensi memperburuk situasi, dan menekankan pentingnya jalur negosiasi. Resolusi tersebut juga diperkirakan akan menghadapi veto dari China dan Rusia di Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz terus meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global dan volatilitas harga minyak.
AGENDA EKONOMI HARI INI:
-China (CN): Indeks Harga Rumah April, Produksi Industri, Penjualan Ritel, Investasi Aset Tetap & FDI.
-Italia (IT): Neraca Perdagangan Maret.
-Amerika Serikat (AS): Pidato Fed dan Indeks Pasar Perumahan NAHB Mei.
INDONESIA: Nilai tukar rupiah, yang sempat menyentuh level Rp17.600/USD, kembali memicu kekhawatiran pasar di tengah meningkatnya tekanan global dan arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Meskipun demikian, pemerintah menekankan bahwa kondisi saat ini masih jauh berbeda dibandingkan krisis 1998 karena fundamental ekonomi domestik dianggap tetap solid. Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, terutama pasar Surat Berharga Pemerintah (SBN), agar tekanan pada rupiah dan pasar obligasi tidak semakin dalam.
-Di sisi lain, pemerintah memutuskan untuk menunda rencana peningkatan royalti dan bea ekspor untuk sektor sumber daya alam melalui revisi PP No. 19/2025 setelah mempertimbangkan tekanan global dan kondisi industri pertambangan yang tidak stabil. Langkah ini dianggap memberikan ruang bernapas bagi emiten mineral dan batubara serta membantu menjaga daya saing industri di tengah risiko melemahnya permintaan, kuota produksi, dan volatilitas harga komoditas global. Dari sisi pasar, penundaan kenaikan royalti cenderung berdampak positif pada sentimen jangka pendek emiten batubara, nikel, dan pertambangan mineral karena dapat menjaga arus kas dan margin keuntungan tetap stabil. Namun, dari sisi fiskal, kebijakan ini berpotensi menghambat pertumbuhan PNBP, mengingat sektor sumber daya alam masih menyumbang sekitar 46% dari total pendapatan negara non-pajak. Pemerintah sebelumnya memperkirakan bahwa penyesuaian tarif sumber daya alam dapat menambah lebih dari Rp200 triliun pada pendapatan negara jika sepenuhnya diterapkan.
-JCI pekan lalu terkoreksi -3,53% atau turun -1,98% pada perdagangan Rabu dan ditutup pada level 6.723,32. Secara teknis, JCI masih bergerak bearish di bawah EMA13 dan EMA34, disertai dengan MACD negatif dan Stochastic yang melemah menuju area oversold, menunjukkan bahwa tekanan jual masih dominan. Investor asing mencatatkan NET SELL sebesar Rp 2,80 triliun di pasar reguler atau Rp 3,21 triliun di semua pasar. Penjualan bersih terbesar terjadi pada saham: BMRI (656B), BBRI (390B), ANTM (304B), DSSA (298B), CUAN (260B), AMMN (173B), BBCA (128B), BUMI (104B), PTRO (98B) & BREN (88B). Sementara itu, saham yang paling banyak diakumulasikan oleh investor asing adalah ADRO (112B), TLKM (91B), INKP (74B), TINS (56B), ISAT (49B), MAPI (47B), BULL (28B), EMAS (27B), BBNI (27B) & PACK (24B).
“Kami memperkirakan JCI berpotensi tetap volatil dengan support terdekat di area 6.700–6.650 dan resistance di kisaran 7.025–7.247. Rekomendasi perdagangan: beli selektif pada saham yang masih menunjukkan kekuatan relatif dan akumulasi asing, sementara bank-bank besar cenderung menunggu dan melihat hingga tekanan arus keluar asing mereda,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (18/5).





